Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

AIR DAN PENGETAHUAN SUCI




Aku adalah yang sering kalian sebut sebagai "Air".
Aku yang abadi membeku di atas gunung sampai di hamparan samudra.
Aku menutupi hampir dari dua per tiga planet ini, begitu juga tubuhmu.
Hampir delapan puluh persen di dalam tubuhmu ada Aku.
Aku adalah sumber kehidupanmu.
Aku yang membuatmu dan semua makhluk hidup ada di planet ini.
Aku yang membuatmu bertahan di planet ini.
Aku akan terus berada disini, tetapi tidak dengan kalian.
Mengeksploitasiku berarti menyedot darahmu sendiri.
Mencemariku berarti meracuni dirimu sendiri.
Bila terus menerus seperti ini kalian akan binasa.
Kalian akan hilang dari planet ini.
Sedangkan aku, aku akan tetap menjadi Air.
Air yang akan membangkitkan kehidupan baru di planet ini.
Kehidupan yang lebih menghargaiku.



Kalimat diatas saya tulis sebagai naratif dalam sebuah video hasil kolaborasi Embara Films (saya dan Febian) yang mengambil gambar di Nepal, India dan Bali dengan sahabat saya, Rayhan Sudrajat yang mengisi suara dan musik. Video ini memenangkan juara pertama dalam kompetisi video lingkungan hidup yang diadakan Conservation International beberapa waktu lalu.


HARI AIR SEDUNIA DAN PERINGATAN WAFATNYA ISA AL MASIH


Dalam rangka hari air sedunia ini saya kembali men-share video ini ke publik untuk mengingatkan pentingnya air untuk keberlangsungan hidup manusia. Bagaimanapun air adalah unsur yang menentukan keberlangsungan hidup kita. Ada yang unik dari hari air sedunia tahun ini, karena waktunya hampir bertepatan dengan minggu Paskah, hari wafatnya Isa Almasih. dan menurut saya sangat terkait sekali topik ini.

Lalu saya teringat dengan tulisan dari Wayan Mustika



Di puncak gunung, air itu turun sebagai hujan atau embun yang jernih, lalu berkumpul menjadi air danau yang segar dan bening.
Perlahan ia mengalir melewati ruang dan waktu, melewati berbagai jalan untuk menuju samudera.
Di berbagai jalan sungai yang dilaluinya, kadang ia tetap mengalir sebagai air jernih. Kadang ia menjadi air keruh penuh lumpur atau tercemari oleh racun.
Maka bila hendak meminum air yang telah mengalir itu, tetaplah memilih yang setidaknya masih bening dan sehat. Bila yang ada hanya air yang kotor, jangan lupa menyaring dan memurnikannya agar layak diminum dan tidak menyisakan sakit yang menderitakan.
Dan dengarlah seekor ikan yang berenang di sungai jernih itu berpesan;
"Begitu pun dengan pengetahuan suci yang diturunkan dari langit di masa lalu, Manu. Melewati begitu banyak ruang dan waktu, menjadi begitu banyak jenis aliran sungai, sebagian diantaranya tercemari atau terkotori oleh lumpur-lumpur ego. Saringlah sebelum kau menyerap ke dalam pikiran dan hatimu menjadi keyakinan. Karena bila tidak waspada, ajaran itu justru bisa membawamu pada penderitaan."
- Mustika Wayan -


Bila Air kita ibaratkan sebagai sebuah ajaran dan keyakinan tentang kebenaran Tuhan, maka seperti itulah yang digambarkan oleh Wayan Mustika. Ajaran agama turun dari Tuhan dalam keadaan suci dan bersih, lalu seiring dengan perkembangan waktu ajaran agama itu malah dimaknai lain dan terpolitisasi oleh ego menjadi sebuah senjata untuk saling membunuh. Bukan ajarannya yang salah, melainkan kita sebagai manusia yang sudah "teracuni" oleh pikiran sendiri terhadap sebuah ajaran. Wafatnya Isa Al Masih merupakan salah satu contoh kejadian yang tertulis di Kitab Suci bahwa secara sosiologis-historis lembaga beragama dengan mudahnya membawa nama Tuhan untuk menganiyaya dan membunuh orang yang dianggap melecehkan nama-Nya. karena dianggap berbeda pemikiran dan terpolitisasi oleh lembaga saat itu. Padahal inti dalam ajaran apapun adalah Kasih.

Sampai sekarang pun kita terus meracuni pikiran kita terhadap ajaran agama dan membuat manusia saling membunuh atas nama Tuhan.

Dan kejadian yang baru saja saya baca malam ini, seorang pria muslim bernama Asad Shah tewas terbunuh di tokonya di Glasgow ditusuk seseorang hanya karena dia tidak suka dengan ucapan Selamat Paskah yang dituliskan Asad di sosial media.   

dan seperti yang saya tulis :


"Mencemariku berarti meracuni dirimu sendiri.
Bila terus menerus seperti ini kalian akan binasa".


dan Wayan Mustika tulis :


"Saringlah sebelum kau menyerap ke dalam pikiran dan hatimu menjadi keyakinan. Karena bila tidak waspada, ajaran itu justru bisa membawamu pada penderitaan."




Selamat Hari Air dan Paskah,



23 - 28 Maret 2016










Jumat, 11 Maret 2016

MENYEPI : UNTUK SEMESTA ALAM




Sudah beberapa tahun ini saya selalu merayakan Nyepi di Bali, walaupun secara indentitas KTP saya bukan penganut Hindu, tetapi hari raya Nyepi menurut saya mempunyai makna yang sangat bagus.

Berawal dari beberapa tahun lalu saya impulsif berangkat ke Bali beberapa hari sebelum Nyepi demi untuk merasakan suasana sakralnya. Kebalikan dari kebanyakan orang yang justru ketika menjelang Nyepi banyak turis dari Bali yang pulang ke tempat asalnya karena ketika Nyepi kita tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasa.


Bali

Dari semua daerah yang sudah saya kunjungi di seluruh Indonesia hanya Bali yang memberi kesan, terutama dari keaslian budaya dan kepercayannya. Ada suatu energi yang terpancar dari tempat ini. Keramahannya sudah tentu yang membuat istimewa, tetapi lebih dari itu masyarakat Bali merupakan representatif dari budaya Nusantara jauh sebelum budaya dari barat masuk dan mewarnai Indonesia ini. Tata cara kelola dalam kemasyarakatan, kebersihan, keagamaan dan kekeluargaan pun boleh saya bilang yang terbaik di negri ini. Bali tidak pernah menutup diri terhadap globalisasi dan kebaharuan, tetapi justru di sini tradisi lokal tidak pernah terlepas dari masyarakatnya. Banyak orang dari seluruh dunia datang ke Bali untuk mempelajari dan memahami kehidupan seimbang di pulau ini, termasuk saya. Kedatangan saya ke Bali adalah untuk memahami pandangan spiritual masyarakatnya terhadap semesta.

Menghadap laut Bali dari atas bukit 


Upacara Nyepi

Nyepi adalah kesunyian yang dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Saka pada penanggalan umat Hindu di Bali sebagai bentuk penyucian diri dari segala sifat buruk yang ada di dalam diri manusia. Walaupun penanggalan Saka berasal dari India, tetapi perayaan tahun baru dengan Nyepi hanya dilakukan di Bali. Agama Hindu Bali adalah Hindu Dharma atau Agama Tirtha. Agama Hindu Bali merupakan penggabungan kepercayaan Hindu aliran Saiwa, Waisnawa, dan Brahma dengan kepercayaan asli suku Bali. Ini yang membuat Hindu di Bali sangat khas karena kepercayaan asli masih dijalankan.

Sebelum Nyepi, masyarakat Bali melakukan beberapa ritual yaitu Melasti, Pecaruan dan Pengrupukan.

Melasti adalah upacara penyucian pusaka dan sarana persembahyangan di Pura yang diarak menuju danau atau laut sebagai simbol penyucian oleh Tirta Amerta, atau air suci. Dalam ritualnya semua umat dari masing-masing banjar dan berbaris rapih dengan pakaian tradisional yang kental dan membawa persembahan. Saya sendiri beberapa kali ikut dalam prosesi Melasti ini karena suasananya begitu khidmat. Dari rombongan umat selain membawa persembahan ada juga yang membawa gamelan sehingga suasana menjadi hidup dengan gamelan Bali. Para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud mensucian.Upacara melasti ini biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum Nyepi. Yang menarik bagi saya adalah ketika Upacara Melasti di pantai yang menghadap matahari terbit atau terbenam karena disaat itulah keindahan alam dan nuansa spiritual menjadi sebuah perpaduan yang agung.

Upacara Melasti di Pantai Kuta

Upacara Melasti di Pantai Kuta

Pecaruan adalah ritual yang dijalankan sehari sebelum Nyepi yaitu hari Pengrupukan. Ritual ini dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam dengan merawat lima unsurnya yaitu tanah, air, udara, api dan ether. Setiap keluarga biasanya menyiapkan caru atau persembahan yang terdiri dari nasi lima warna, lauk pauk ayam, brumbuhan dan juga tuak. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Malam Pengrupukan biasanya dilakukan dengan pawai Ogoh-ogoh. yaitu mengarak patung yang mudah dibakar berbentuk raksasa atau demit sebagai perlambang mengusir Batara Kala dari dalam diri manusia. Saya khusus berkunjung ke Desa Petulu di Gianyar terpatnya di Banjar Nagi karena setiap malam Pengrupukan pemuda desa ini melakukan ritual perang api dengan saling melempar sabut kelapa yang sudah dibakar. Semua ritual ini sebagai simbol mengusir nafsu dan emosi dalam diri manusia sebelum memulai tahun baru besoknya.

Perang api di Desa Petulu, Banjar Nagi, Gianyar.

Ogoh-ogoh


Setelah selesesai acara pada malam Pengrupukan semua warga desa kembali ke rumah dan mulai mematikan semua lampu di desa dan kota, jadi sebagian malam hari itu seluruh Bali sudah mulai gelap. Nyepi akan dimulai jam 6 pagi besoknya selama 24 jam dengan melakukan Catur Brata, yaitu amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.



Penghargaan untuk Manusia, Alam dan Tuhan.


Ada kalanya manusia berhenti sejenak beraktivitas, dari setahun penuh kita beraktivitas, hanya di hari Nyepi inilah kita mengalami perenungan yang dalam. Selama saya Nyepi di Bali saya merasakan banyak sekali manfaat bagi diri saya sendiri, terutama dalam menyadari hubungan antara manusia, alam dan sang pencipta. Walaupun saya bukan umat Hindu, tetapi selama Nyepi saya gunakan untuk melakukan ritual ibadah keyakinan saya sendiri. Sungguh berbeda rasanya, saya bisa merasakan bagaimana suara-suara alam yang jarang saya dengar bila sedang di kota atau di tempat lain pada umumnya. Saya bisa mendengar suara ombak dari jauh, saya bisa mendengar suara antar daun yang bergesekan, saya bisa mendengar suara serangga kecil, bahkan saya bisa mendengar hembusan nafas sendiri, suara nafas yang tidak pernah saya perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah kesadaran yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Saya pernah bertemu seorang Biksu Buddhis dan dia memberikan saya sedikit pesan bahwa cobalah saya berpuasa bicara dan disitu kita bisa lebih mengenal siapa jiwa kita. Ketika kita berhenti berbicara dan tidak membuat kebisingan dengan mulut, saya baru menyadari bahwa di dalam kepala saya sangat berisik. Suara-suara di dalam kepala seperti berlomba-lomba berkomentar dan itu ternyata sangat riuh sekali. Disitulah ternyata secara tidak sadar kita melakukan sebuah tindakan atas perintah dari suara didalam otak. Kadang kita tidak sadar kalau selama ini kita selalu menghakimi orang, atau menjelek-jelekan orang atau marah dengan orang. Bila pernah melihat film "Inside out" nah seperti itulah saya bisa mendengar suara dari empat sifat dasar manusia.

Tempat saya menghabiskan waktu selama Nyepi di Bali. Sebuah rumah tenang yang dijadikan penginapan.

Dengan Nyepi saya melatih untuk mengendalikan itu semua dan membuatnya kembali ke titik Nol, titik kosong. Titik dimana saya merasa menjadi bagian dari semesta ini. Lalu saya menghirup oksigen bersih dan mengeluarkan carbon dioksida secara perlahan. Selama Nyepi, tingkat polusi di Bali menurun drastis, Udara di seluruh pulau ini menjadi sangat bersih walaupun itu ditengah kota sekalipun. Ketika menghirup udara bersih ini saya juga menyadari kalau udara yang ada di Bumi ini tidak pernah kemana-mana. Udara yang saya hirup ini sama seperti  yang Siddhartha Gautama hirup, sama juga seperti yang Yesus hirup, Sama juga seperti yang Muhammad hirup, bahkan sama seperti yang Adam hirup. Perenungan di saat Nyepi ini seperti membuka pandangan saya terhadap suatu hal bahwa tidak ada yang berbeda dari kita semua. Kita sebagai manusia, bagian dari alam semesta yang tidak seharusnya merasa diri kita lebih unggul daripada manusia dan makhluk lain.

Malam yang penuh bintang ketika Nyepi


Malam ketika Nyepi sangat gelap. Tidak ada satupun lampu yang dibolehkan menyala. Gelap total. Tapi kegelapan ini yang membuat malam ini sangat terang karena jutaan bahkan miliaran bintang di langit sangat jelas terlihat. Pemandangan yang sangat spektakuler dan tidak mungkin kita lihat apabila kita sedang berada di tengah kota yang penuh dengan lampu. Hal yang paling sering saya lakukan ketika Nyepi adalah berbaring di rooftop atau taman di dalam hotel lalu melihat ke angkasa melihat sabuk Galaksi Bimasakti dan disitu saya merasa sangat kecil. saya melihat detail sekali angkasa yang luas di depan mata. Saya merasa Tuhan sedang hadir di dalam kekaguman saya terhadap karyanya.

sesajen

Keesokan harinya setelah jam 6 pagi ritual Nyepi selesai dan semua warga keluar rumah untuk melakukan Ngembak Geni, yaitu berdoa kepada Tuhan untuk diberikan kemudahan dan kebaikan sehinggan bisa menjadi manusia yang baru untuk menjalani kehidupan kedepan. Sama seperti Hari Lebaran, seusai Ngembak Geni semua warga bersilaturahmi ke rumah sanak saudara dan saling maaf-meaafkan. Menurut saya tradisi asli silaturahmi dan saling maaf-memaafkan inilah yang pada akhirnya tetap digunakan oleh umat beragama di Nusantara ini ketika hari raya tiba.



Di berbagai desa di Bali hari Ngembak Geni ini dirayakan secara beragam, salah satunya di Desa Sesetan di Denpasar, sekelompok muda-mudi merayakannya dengan festival ciuman. Saya melihat ini bukan sebagai tindakan yang amoral, melainkan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan.

Ternyata Nyepi mengilhami dunia untuk membuat 'World Silent Day' setiap tanggal 21 Maret. Jadi, setiap tanggal 21 Maret warga dunia tak melakukan aktifitas keluar rumah serta mematikan lampu mereka selama 24 jam. Satu tahap yang sangat baik setelah Earth Hour.


"Tidak ada hari raya manapun yang memberikan kesempatan untuk menghormati alam semesta dan Tuhan yang besar ini selain Nyepi"


Bukan tanpa alasan mengapa saya berangkat ke Bali ketika Nyepi. Dalam pengalaman pendidikan religius saya dari kecil saya selalu diberi dogma tentang kebenaran dalam agama saya, oke itu tidak menjadi masalah bagi saya, tetapi saya selalu diberi dogma kalau ajaran agama selain agama yang saya anut itu salah, penyembah berhala, penyembah gunung, penyembah pohon, penyembah setan dan lain-lain. Waktu saya kecil saya sangat meyakini hal itu dan menganggap orang-orang yang berbeda keyakinan dengan saya sudah pasti salah. Setelah saya dewasa saya baru menyadari bahwa spiritualitas tidak segamblang itu pola berfikirnya. Ada rasa dalam diri ingin mendalami lagi tentang itu. Mendalami yang justru membuat saya terbawa untuk menggali lebih dalam lagi tentang hakikat manusia dan alam, oleh karena itu saya terbang menuju Bali untuk merasakan suasana masyarakat dan spiritualnya.

Mengikuti Upacara

Dari semua ritual keagamaan yang ada di seluruh dunia menurut saya Nyepi ini sangatlah istimewa, Bila di tempat lain hari raya selalu dirayakan dengan gegap gempita, di Bali Hari Raya Nyepi dirayakan dengan kesunyian dan penuh dengan perenungan. Saya pernah datang ke beberapa perayaan hari besar agama Hindu di India tetapi tidak ada yang seperti di Bali. Di India semuanya dirayakan dengan tarian, nyanyian dan festival yang ramai, kebalikannya dari Nyepi di Bali. Dalam perayaan agama saya sendiri yaitu pada bulan Ramadhan, kadang implementasinya tidak sampai pada umatnya. Seharusnya puasa 30 hari itu menjadi perenungan juga, tetapi pada akhirnya menjadi bulan yang penuh konsumtif, baju baru, kue, makanan dan lain-lain. ya itu tergantung umat yang melaksanakannya. Tapi yang perlu diberi apresiasi adalah ketika Nyepi kita menghemat miliaran uang untuk pasokan listrik dan energi BBM, memberikan udara bersih untuk alam dan lingkungan dan juga memberikan kesempatan merenung untuk kita sebagai manusia atas keagungan Tuhan. Tidak ada hari raya manapun yang memberikan kesempatan untuk menghormati alam semesta, manusia dan Tuhan yang besar ini selain Nyepi.

"Karena pada hakikatnya manusia terlahir ke dunia dalam kesunyian dan akan meninggalkan dunia ini pun dalam kesunyian kembali"



The Wisdom of Bali


Dari sinilah akhirya saya bertekad untuk berkeliling dunia dan mengenal lebih dalam lagi tentang eksistensi Tuhan lewat berbagai ragam budaya dan ritual yang dijalankan manusia di Bumi ini. Bersama dengan kawan di Embara Films, kami akan mendokumentasikan perjalanan spiritual ini  kedalam sebuah film berjudul "HOMA". 




Jumat, 28 Maret 2014

NAVAGIO BEACH DI NUSA PENIDA





Ya, di Nusa penida ada pantai yang mengingatkan saya dengan Navagio beach di Zakynthos Yunani. Oh, ternyata Navagio Beach punya kembarannya, dan lokasinya ada di pulau ini. Oke, saya harus cari tahu lokasi ini. Langsung semua foto hasil googling saya print dan entah kenapa tiba-tiba saya langsung membuka situs Airasia untuk langsung memesan tiket pesawat. Saya mengajak teman saya Febian untuk ikut bergabung dan dia bilang "Hah, yang bener... kita langsung terbang ke Bali tiga hari lagi ?", terus saya bilang "Iya, kita berangkat tiga hari lagi, saya udah pesen tiket pesawat. Kebetulan disana sedang menjelang hari raya Nyepi jadi urusan tempat tinggal gimana nanti aja yang penting kita sampai dulu di Nusa Penida". dan untungnya saya dapat tiket promo murah dari bandung ke Bali. 

Tiga hari kemudian.....

Saya dan Febian langsung berangkat pagi-pagi naik pesawat dari Bandung menuju Bali, Setelah sampai Bandara Ngurah Rai lalu naik taxi menuju Sanur. Diperjalanan saya sengaja menemui kawan saya Larissa yang saat itu masih tinggal di Bali untuk memberikan DVD Box Set film EPIC JAVA yang sudah dipesannya.

Larissa dan Boxset DVD Epic Java Pesanannya


Sesudah sampai Sanur, saya dan Febian makan dengan sop ikan yang terkenal enak di Warung Mak Beng sambil menunggu jadwal perahu penyebrangan menuju ke Nusa Penida. 

Akhirnya perahu tiba dan membawa kami ke Pulau Nusa Penida. Di dalam perahu kami ditanya seorang ibu-ibu "mau tinggal dimana dek ?", lalu saya menjawab kalau kami belum ada rencana tinggal dimanapun dan berencana mencari sendiri nanti setibanya disana. 

Perahu pun sampai di pantai Toyopakeh Nusa Penida dan teman saya bingung "nah kita udah sampai nih, terus kemana ?" . Saya juga sebetulnya bingung, perjalanan impulsif ini memang benar-benar sangat kurang informasi, yang saya bawa cuma informasi secarik kertas print yang isinya hanya gambar pantai yang mirip Navagio Beach dan juga foto udara pantai yang berbentuk sumur raksasa sinkhole . "oke kita tanya tukang ojeg di depan ya".

Saya bertanya kepada semua tukang ojeg dan mereka semua tidak tahu lokasi tepatnya objek-objek foto yang saya berikan, akhirnya saya meminta mereka mengantar ke penginapan terdekat sekalian sewa motor dari salah satu ojeg disana. dalam perjalanan menuju penginapan tukang ojeg yang mengantar kami tiba-tiba berhenti di depan warung bensin kecil dan menemui seorang bapak-bapak yang bernama Pak Ludri, karena menurut dia Pak Ludri jauh lebih mengenal pulau ini. "Mas, maaf saya tidak bisa mengantar lebih jauh, mungkin nanti mas bisa dibantu diantar oleh Pak Ludri, mungkin beliau bisa bantu". Hmm baiklah kalau gitu. akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan dua motor, saya dan teman saya boncengan di belakang dan Pak Ludri menunjukan arah dengan motornya di depan.

Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan pedesaan Bali yang masih tradisional, disini sangat jarang sekali mobil yang ada hanya sepeda motor dan masyarakat yang pulang berkebun dengan berjalan kaki. Saya seperti sedang di Bali pada masa lalu, sebelum banyak turis mengunjunginya. Nusa Penida memang sangat berbeda infrastrukturnya dengan di Bali, disini masih banyak jalan yang rusak dan dan kondisi masyarakatnya yang masih sederhana, tetapi walaupun begitu tradisi disini masih sangat kental juga, bisa dilihat dengan persiapan hari pangrupukan menjelang Nyepi nanti, disetiap banjar sudah mulai dibangun ogoh-ogoh besar untuk diarak. Perjalanan kami mengarah ke Desa Sakti, karena di sana ada penginapan yang dekat dengan Crystal Bay, rencananya di tempat itu akan digelar upacara melasti pada hari lusa.

Susana pedesaan di Nusa Penida

Kami sampai disebuah penginapan yang bernama Namaste, langsung parkir motor dan disambut dengan pemiliknya yaitu Cisco, seorang warga negara perancis yang sangat jatuh cinta dengan Nusa Penida. Dia mengajak anak dan istrinya untuk tinggal dan menetap dipulau ini. Istrinya bernama Sarah dan anak perempuannya bernama Nina. Nah uniknya Nina ini sangat pandai berbahasa Indonesia dan bahasa daerah, karena dia disekolahkan di sekolah Negri di Desa Sakti, setiap hari dia pergi ke sekolah beramai-ramai dengan anak kecil lainnya berjalan kaki melewati kebun, apabila sudah sampai rumah Nina akan berkimunikasi dengan bahasa Perancis, itulah aturan yang dibuat Cisco dan Sarah. Namaste ini adalah rumah mereka sekaligus penginapan yang disewa, saya melihatnya seperti resort yang unik, letaknya yang sangat jauh dari perkampungan membuat tempat ini sangat eksklusif, ada kolam renang juga yang menghadap ke lembah. Yang membuat tempat ini nyaman adalah pelayanannya yang sangat bagus karena Cisco dan Sarah akan melayani tamunya seperti keluarga.

Penginapan kami di Namaste
Kolam renang Namaste
Saya sedikit berdiskusi dengan Cisco dan Pak Ludri mengenai tempat yang akan saya datangi, dari dua objek foto yang saya berikan Cisco dan Pak Ludri hanya mengenal pantai yang berbentuk sinkhole tetapi belum tau kalau ada pantai lagi yang menyerupai Navagio Beach. "Oke Pak, bisa Pak Ludri mengantarkan kami ke pantai yang berbentuk sinkhole ini ?" tanya saya, "Oh bisa mas, warga disini menyebutnya Pasih Uug, yang artinya tanah yang runtuh. mungkin sekitar 1 jam dari sini kalau pakai motor" jawab Pak Ludri. "Oke Pak, sepertinya kita harus berangkat dari sekarang biar bisa menikmati sunset disana". Setelah menyimpan ransel dan barang bawaan kami di kamar akhirnya kita langsung berangkat. 

Perjalanan yang dilalui kali ini sedikit lebih sulit karena kami melewati jalan yang hancur dan masuk kedalam kebun dan hutan. sesekali melewati banjar dan perkampungan warga. Selang satu jam kita melalui jalan berbatu dan rusak akhirnya kami sampai dan saya melihat pemandangan yang menakjubkan. Sebuah lubang yang sangat besar dipinggir pantai dan sebuah jembatan alami yang terbentuk akibat terkikis ombak selama ratusan tahun. Yah, ini pemandangan alam yang sangat bagus, sesekali saya melihat kedalam jurang lubang besar itu dan didalamnya ada pantai tersembunyi. Menurut Pak Ludri biasanya ada warga yang turun kebawah untuk mengambil sarang walet. Kami menikmati pemandangan Pasih Uug sampai sunset sambil mengambil beberapa video dan timelapse.

Pasih Uug difoto dari Google Maps, terlihat lubang sinkhole dari atas

Pasih Uug dari dekat, ada pantai tersembunyi didalamnya

Goa jalur masuknya air laut ke dalam singhole yang membentuk jembatan alami  

Kampungan, nemu pemandangan aneh langsung tiduran

Febian minta difoto

Bikin timelapse sebelum gelap


Hari sudah semakin gelap, saatnya kita pulang kembali ke penginapan. Ternyata jalan menuju pulang pada saat gelap sangat berbeda kondisinya daripada siang-siang, suasananya lebih mencekam karena hanya motor kami saja yang melewat jalan itu. Penerangan hanya bersumber dari lampu motor.
"Bang, kok jadi serem gini ya".... tanya Febian
"Ya namanya juga kemaleman ditengah hutan, berdoa aja biar cepet sampe".... saya berusaha nenangin diri padahal serem juga sambil nyetir motor
"Eh, kok tiba-tiba ada wangi-wangi gini ya"... Febian mulai banyak nanya
"Bukan apa-apa kok, mungkin aja ada yang naro sesajen sembahyang di pinggir jalan" .... padahal mulai panik
"Eh itu liat di depan ada raksasa".... Febian teriak bikin kaget...
Benar saja, kami melihat raksasa di depan motor kami, Pak Ludri sudah meluncur lebih dulu tanpa rasa takut. Saya sedikit sambil takut memajukan motor dengan perlahan... "Ah, itu Ogoh-ogoh, bukan raksasa beneran"..  lalu Febian menjawab "Iya, masudnya itu raksasa Ogoh-ogoh hehe".... pengen rasanya saya turunin temen yang satu ini ditengah hutan.

Sambil mengusir kesunyian selama perjalanan si Febian mulai nyanyi.... awalnya nyanyi beneran, sampai lama-lama nyanyi lagu ciptaannya sendiri yang saya gak ngerti, saya takutnya dia kesurupan gara-gara bikin berisik ditengah hutan.

akhirnya kami sampai di penginapan, dan Pak Ludri pamit pulang untuk besoknya akan kembali datang dan mengantar kami lagi dengan motornya. "ah, enaknya bisa ketemu kasur"...

dari kiri ke kanan : Pak Ludri, Febian, Cisco, Nina, Sarah dan saya


besok paginya Pak Ludri datang dan dia mengajak kami ke Goa Giri Putri. Ya, Goa Giri Putri adalah Pura di dalam Goa yang sangat besar. Saya baru pertama kali masuk ke tempat ini dengan mulut Goa yang hanya seukuran perut. Jadi kita masuk kedalam goa dengan lubang yang sangat kecil dan harus merangkak, tapi begitu sampai di dalam ruangan langsung besar hampir menyerupai hanggar pesawat, di dalamnya ada pura dan kuil. Saat kami masuk sedang tidak ada siapa-siapa di dalam, merinding dan tempat ini benar-benar kosong, tapi apabila sedang upacara di dalam goa ini bisa muat ribuan orang yang beribadah dan beberapa orang didalam bisa kerauhan (kesurupan) masal.

Goa Giri Putri

Selesai dari Goa Giri Putri kami berkunjung ke rumah pak Ludri untuk istirahat sekalian berkenalan dengan keluarga Pak Ludri yang sedang menyiapkan sesajen untuk hari Melasti besok. Rumah Pak Ludri sangat sederhana tapi kehangatan keluarganya membuat suasana dirumah itu sangat mewah bagi kami.

selesai istirahat kami melanjutkan perjalanan dengan motor menuju ke pantai yang seperti di Navagio Beach. Pak Ludri sebetulnya tidak tahu posisi pantainya, tapi dia melihat kalau dari topografi bukit putih dan besar seperti itu pasti berada disekitar kawasan barat daya Pulau.

Perjalanan sudah hampir menghabiskan waktu dua jam dengan kondisi jalan lebih parah dari kemarin dan kami belum menemukan tanda-tanda bukit dan jurang yang terlihat seperti di foto. Di tengah siang yang terik Pak Ludri menanyakan arah ke bapak-bapak di kebun di pinggir jalan, kami menunggu di motor. Oke Pak Ludri sudah tau arah menuju pantai itu, tetapi sebelum berangkat kami diajak untuk minum kelapa milik si bapak kebun barusan. "Loh tapi kelapa nya mana ?" saya bertanya. Lalu si bapak dengan sigap langsung naik keatas pohon kelapa di sebelahnya dan menurunkan beberapa buak kelapa untuk kami. Begitu sampai bawah pohon, bapak langsung membuka kelapa dan mempersilahkan kami minum langsung, "terimakasih banyak Pak, kami memang kehausan dari tadi diperjalanan lupa membawa bekal air".

Habis minum kelapa langsung foto bareng, saya gak ada di foto ini karena saya yang motonya..

Ternyata lokasi pantai yang dimaksud sudah tidak jauh lagi, di dekat perkebunan tadi tiba-tiba jalan batu langsung berubah menjadi hamparan padang rumput yang luas dan disebelahnya adalah jurang, "Yak, kita sampai.... kita ada diatas Navagio Beach versi Nusa Penida". dan ternyata nama bukit ini adalah bukit Paluang dan pantai yang dibawah jurang adalah pantai Paluang. senang sekali akhirnya sampai disini, tapi sayang sekali kami tidak bisa kebawah karena belum ada jalur untuk turun ke bawah. Tapi walaupun begitu pantai ini sangat bagus dilihat dari atas, seperti di Zakynthos Yunani :). Gak pernah disangka, beberapa hari yang lalu saya memandangi pantai ini hanya dari layar monitor komputer dan sekarang saya melihatnya langsung di depan mata.

Jalan menuju Paluang

Bukitnya ada disebelah sana
Pantai Paluang
Merinding juga liat kebawah, tingginya bisa sampe 100 meter

Febian

Bikim Timelapse

Pantai Paluang, kembarannya Navagio Beach

Atas : Navagio Beach di Yunani
Bawah : Pantai Paluang
mirip kan.... ya kayak kakak adek lah :)


Seperti biasa kami menghabiskan sunset disini sambil mengambil video dan timelapse. Hari sudah semakin gelap dan pengalaman pulang mencekam terulang lagi.... lalala....Febian mulai mengeluarkan jurus nyanyain pengusir sunyi.

Kami sampai di Penginapan dan langsung beristirahat supaya tidak telat mengikuti prosesi Melasti besok pagi di Crystal Bay.

Alarm jam lima subuh sudah bunyi, kami bangun dan Febian mulai cerita
"Bang, tadi malem kok bisa tidur nyenyak ?"....
"Bisa lah, kan capek. Emang kenapa ?"....
"Wah, gak denger ya ? tadi malem semua anjing menggonggong dan kucing-kucing mengeong di waktu yang bersamaan, dan semuanya mengarah ke penginapan kita"
"Ah perasaan aja kali, namanya juga penginapan di tengah hutan, wajarlah banyak binatang"
"Tapi yang ini beda"....
"udah ah, mandi cepet nanti gantian, keburu telat prosesi melasti nya nanti".... saya langsung memotong pembicaraan.

Kebetulan nanti rombongan Melasti dari Banjar di Desa Sakti akan melewati depan penginapan kita menuju ke Crystal Bay, karena jalan di depan penginapan merupakan jalan satu-satunya menuju pantai.

Saya dan Febian berangkat lebih awal menuju Crystal Bay, disana sudah ada beberapa pemuka adat. Setelah saya parkir motor saya didatangi salah satu pemuka adat
"Selamat pagi mas, mas yang menginap di Namaste ya ?"
"Iya Pak, kok Bapak tau ?"
"Kita semua tau siapa tamu yang menginap disana. Gimana tidurnya tadi malam nyenyak ?"
"Nyenyak Pak, tapi teman saya tidak bisa tidur, katanya tadi malam dia mendengar suara lolongan anjing dan kucing bersamaan"
"Nah itu dia mas, sebenarnya tempat mas menginap itu sebetulnya dihuni oleh raksasa besar"
"Maksud bapak Ogoh-ogoh ?"
"Bukan mas, raksasa betulan. oleh karena itu sebelum tempat itu dijadikan penginapan sudah kami upacarakan. Tapi raksasanya sekarang sudah baik kok, cuma kadang binatang sering gelisah dan bisa tiba-tiba menggongong"
"hmm ooohhhh gitu ya Pak, oh kebetulan hari ini hari terakhir saya di penginapan itu Pak, tapi menurut saya tempatnya nyaman dan enak"
"ada satu lagi dek, di sebelah utara ada tanah mistik, ada yang pernah menemukan emas tapi dia langsung sakit"
"oh oke Pak, terimakasih infonya ya... rombongan Melasti sepertinya sudah sampai, saya mau ambil gambar dulu"

Tiba-tiba saya ingin sekali mengakhiri percakapan aneh itu. Saya baru teringat kalau Nusa Penida kerap disebut juga sebagai Pulau Ilmu Hitam karena banyak ajaran-ajaran mistik. Mendengar cerita bapak tadi saya jadi sedikit merinding juga, tapi ah sudahlah, saya lebih menikmati pemandangan alam dan budaya di pulau ini.


Upacara Melasti di Crystal Bay

Upacara Melasti di Crystal Bay

Upacara Melasti di Crystal Bay

Setelah prosesi Melasti, saya kembali ke Penginapan untuk berkemas dan bersiap pulang menuju Pantai Toyopakeh dan bersiap kembali ke Sanur. Pak Ludri dan Cisco menemui kami disana untuk mengucapkan selamat tinggal dan dia berharap kami bisa kembali kesini. Kami merasa banyak bertemu orang baik di pulau ini. Semoga kami bisa kembali lagi

Nusa Penina meninggalkan banyak kesan, dari pemandangannya, masyarakatnya, sampai budayanya. Saya merekomendasikan tempat ini untuk siapa saja yang ingin merasakan budaya Bali yang masih asli. Hanya 2 jam dari Sanur kita bisa merasakan pulau dengan suasana seperti  Bali 30 tahun yang lalu.





Nusa Penida
28 Maret 2014



*beberapa bulan setelah ini Febian mempromosikan tempat ini ke teman-temannya di Malaysia dan kembali lagi ke Nusa Penida bersama teman-teman Malaysianya dan diantar Pak Ludri juga